PENGARUH LAMA LATIHAN TERHADAP KONSUMSI PAKAN,
KECERNAAN PAKAN DAN NERACA NITROGEN PADA KERBAU
ATLET (MAKEPUNG) YANG DIBERI PAKAN RUMPUT RAJA
I. K. SUMADI
Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak,Fakultas Peternakan,
Universitas Udayana, Denpasar
RINGKASAN
Penelitian untuk mempelajari lama latihan yang berbeda terhadap konsumsi
pakan, kecernaan pakan, serta neraca nitrogen pada kerbau atlet (makepung) yang
diberi rumput raja (King grass) telah dilaksanakan di Desa Candikusuma, Kecamatan
Melaya, Kabupaten Jembrana (Bali). Pada penelitian ini, digunakan rancangan acak
kelompok (RAK) pola Split plot (petak terbagi) 3 x 4. Tiga tingkat berat badan
sebagai petak utama (B1 = 309,44 ± 4,29 kg; B2 = 350,94 ± 6,21 kg; dan B3 =
393,94 ± 8,07 kg) dan empat tingkat lama waktu latihan sebagai anak petak (L0 :
tidak dilatih; L1 : dilatih selama 5 menit/hari; L2 : dilatih selama 10 menit/hari; dan
L3 : dilatih selama 15 menit/hari) selama dua minggu. Setiap perlakuan terdiri atas
empat ulangan dan peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan bahan
kering pakan, perubahan berat badan, kecernaan protein, dan neraca nitrogen (N).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan,
perubahan berat badan, dan neraca N secara nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh lama
latihan, sedangkan kecernaan protein tidak dipengaruhi oleh berat badan dan lama
latihan (P>0,05). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa
peningkatan lama latihan tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein, tetapi terjadi
peningkatan konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan, konsumsi N, dan
perubahan berat badan. Peningkatan berat badan dan retensi N semakin rendah
dengan meningkatnya lama latihan; bahkan terjadi penurunan berat badan pada
kerbau yang dilatih selama 15 menit /hari.
Kata kunci : berat badan, lama latihan, rumput raja, kecernaan, retensi nitrogen.
PENDAHULUAN
Usaha peternakan yang telah dilakukan oleh petani sejak zaman dahulu sudah
kelihatan manfaatnya dalam membantu kehidupan petani itu sendiri. Pemeliharaan
ternak sapi di samping sebagai penghasil daging dan tenaga kerja, juga
dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara ritual keagamaan dan hiburan. Bentuk
pemanfaatan ternak kerbau dan sapi sebagai hiburan, seperti sapi gerumbungan di
Singaraja (Bali) dan kerbau pacuan di Jembrana (Bali). Makepung adalah adu lari dua
pasang kerbau jantan terlatih yang menarik cikar dan dikemudikan oleh seorang sais.
Di Jembrana, Bali, setiap kali pacuan diikuti oleh dua pasang kerbau dari
masing-masing kelompok (Blok Barat dan Blok Timur), yang berpacu secara
beriringan sepasang di depan dan sepasang lagi berada di belakang. Masing-masing
pasangan mempunyai garis awal (“start”) dan garis akhir (“finish”) yang berbeda
sehingga panjang lintasan yang ditempuh oleh masing-masing pasangan akan sama.
Kerbau yang digunakan dalam pacuan adalah kerbau jantan baik yang belum dikebiri
atau pun yang sudah dikebiri.
Barwell dan McAyre (1982) menyatakan bahwa kerbau jantan mempunyai berat
badan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kerbau betina, sehingga
kemampuan tarik (kerja) juga akan lebih kuat. Kemampuan kerja kerbau lebih baik
jika dibandingkan dengan sapi, karena sifat khas kerbau lebih tenang dan mempunyai
kekuatan tarik yang lebih besar (Goe, 1983). Beberapa hal yang dapat mempengaruhi
kemampuan kerja kerbau adalah umur, suhu lingkungan, latihan, kelembaban udara,
serta macam dan kekerasan tanah (Matthews dan Pullen, 1977).
Kerbau dengan berat badan 300 – 350 kg yang dikerjakan tanpa beban dan
kemudian bekerja dengan beban 50 kg selama 14 hari, konsumsi pakannya meningkat
dari 5,26 kg bahan kering (DM) menjadi 6,26 kg DM per hari, tetapi tidak terjadi
kenaikan berat badan selama kerja (Bakri et al., 1989). Energi, protein, dan zat-zat
makanan lainnya yang diperoleh dari makanan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan hidup pokok dan produksi. Menurut Mahardika (1996), lemak digunakan
sebagai sumber energi utama terutama pada periode kerja yang lama dan protein
akan segera digunakan bila beban kerja terus ditingkatkan. Meningkatnya lemak
sebagai sumber energi pada kerbau yang mendapat beban kerja akan menyebabkan
meningkatnya air metabolik yang dihasilkan, karena oksidasi lemak menghasilkan air
metabolik yang lebih tinggi ketimbang karbohidrat. Keadaan ini didukung oleh
meningkatnya jumlah urine yang dikeluarkan.
Protein akan mengalami oksidasi untuk menghasilkan energi sehingga terjadi
penurunan retensi protein pada kerbau yang bekerja. Proses oksidasi protein dimulai
dari deaminasi asam amino sehingga menghasilkan gugus alfa-keto. Gugus ini akan
menghasilkan energi melalui jalur siklus asam sitrat atau melalui jalur
glukoneogenesis. Amonia yang dihasilkan akan dibuang ke hati dan diubah menjadi
urea yang kemudian dikeluarkan melalui urine. Hal ini tercermin dengan adanya
peningkatan jumlah nitrogen yang dikeluarkan melalui urine pada kerbau yang
mendapat kenaikan beban kerja (Mahardika, 1996). Penentuan kebutuhan akan energi
dengan pendekatan percobaan pakan dan pengukuran komposisi tubuh memberi hasil
bahwa kebutuhan akan energi untuk kondisi istirahat pada kerbau adalah 0,42 W0,75
MJ/hari sedangkan kebutuhan akan energi untuk hidup pokok adalah 0,37 W0,75
MJ/hari (Mahardika, 1996). Selanjutnya, penentuan kebutuhan akan protein dengan
pendekatan percobaan pakan dan perubahan komposisi tubuh mendapatkan bahwa
kebutuhan akan protein untuk hidup pokok adalah 2,52 W0,75 g/hari. Sebaliknya,
kebutuhan akan protein untuk kerja dipengaruhi oleh beban dan lama kerja.
Kecernaan bahan kering rumput raja berkisar antara 50,05 – 51,87% pada
kerbau yang tidak bekerja, bekerja satu jam dan kerbau yang bekerja dua jam
(Mahardika et al., 1996). Lindela dan Mupeta (1995) mendapatkan bahwa tidak ada
perbedaan kecernaan bahan kering pada kerbau yang bekerja dibandingkan dengan
kerbau yang tidak bekerja.
Dari telaah pustaka di atas, maka perlu diteliti pengaruh lama latihan yang
berbeda terhadap konsumsi pakan, kecernaan pakan dan neraca nitrogen pada kerbau
atlet. Penelitian itu perlu dilakukan. Karena mengingat pula bahwa di Kabupaten
Jembrana (Bali) terdapat pacuan kerbau yang telah dikenal secara internasional.
Tujuannya adalah untuk mengetahui keadaan status nutrisi yang ada hubungannya
dengan intensitas latihan.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya,
Kabupaten Jembrana (Bali) selama tiga bulan. Analisis proksimat pakan, feses, dan
urine yang diuji kadar zat nutrisinya dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan
Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.
Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah kerbau jantan yang telah
dipilih secara visual, karena paling tidak penampilan kerbau yang digunakan dalam
penelitian bisa mirip dengan kerbau yang digunakan atau dilombakan pada acara
pacuan kerbau (makepung). Berat badan kerbau yang digunakan antara 300 – 390 kg.
Kerbau tersebut dibeli dari petani yang selanjutnya dipelihara sesuai dengan
keperluan penelitian. Masing-masing kerbau dipelihara di dalam kandang metabolik
yang dilengkapi dengan tempat makanan, tempat penampungan kotoran dan urine,
serta ember tempat air minum.
Pakan yang diberikan selama penelitian adalah rumput raja (King grass) umur
40 – 50 hari dengan kandungan protein kasar 10,2 % (DM basis) yang diberikan
ad-libitum. Air minum diambil dari sumur dan diberikan ad-libitum.
Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan
Acak Kelompok pola Split plot (petak terbagi) 3 x 4. Tiga tingkat berat badan kerbau
ditetapkan sebagai petak utama (B1 = 309 ± 4,29 kg; B2 = 350,94 ± 6,21 kg; dan B3
= 393,94 ± 8,07 kg) dan empat tingkat lama waktu latihan sebagai anak petak (L0,
L1, L2, dan L3 berturut-turut 0, 5, 10, dan 15 menit/hari) selama dua minggu dan
masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Latihan dilakukan setiap pagi
hari pada lintasan melingkar dengan keliling 114 m.
Kerbau dilatih setiap pagi hari pada pukul 07.000 Wita dan setelah latihan
dikembalikan ke dalam kandangnya. Makanan dan air minum yang diberikan selalu
tersedia (ad-libitum). Konsumsi pakan harian dihitung berdasarkan pakan yang
dikonsumsi dikurangi dengan pakan yang masih tersisa di tempat pakannya, sehingga
jumlah pakan yang dikonsumsi selama penelitian dapat dihitung.
Peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan,
perubahan berat badan, kecernaan protein, dan neraca nitrogen.
Kecernaan bahan kering pakan ditentukan dengan metode koleksi total (Tillman
et al., 1991). Feses yang ada di dalam kandang metabolik dikumpulkan dan
ditampung selama 24 jam. Feses ini ditimbang dan dicatat setiap hari sehingga
jumlah feses tiap ulangan selama penelitian dapat diketahui.
Dari setiap ulangan percobaan diambil sampel pakan dan feses secukupnya
kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Setelah kering udara, sampel tersebut
dioven pada suhu 105o C selama 3 – 4 jam. Kecernaan bahan kering pakan (KCBK)
dapat dihitung dengan rumus :
Jumlah konsumsi bahan kering pakan – Jumlah bahan kering feses
KCBK = -------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah konsumsi bahan kering pakan
Kecernaan protein dapat diketahui dengan melakukan analisis kandungan
protein pakan dan feses terlebih dahulu. Setelah itu, kecernaan protein dapat
ditentukan dengan menggunakan rumus :
Jumlah konsumsi protein – Jumlah protein feses
Kecernaan protein = ------------------------------------------------- x 100%
Jumlah konsumsi protein
Neraca nitrogen (N) ditentukan dengan cara menentukan jumlah nitrogen yang
dikonsumsi, yang keluar melalui feses, yang keluar melalui urine dan nitrogen yang
diretensi. Konsumsi N ditentukan dengan mengalikan konsumsi bahan kering dengan
kandungan N pakan. Kandungan N feses dan N urine ditentukan dengan cara
mengalikan jumlah feses dan jumlah urine dengan kandungan N dalam feses dan N
dalam urine. Kandungan N pakan, N feses, dan N urine didapat dari analisis sampel
dengan cara Kjeldahl.
Retensi Nitrogen = Konsumsi nitrogen – Nitrogen feses – Nitrogen urine
Perubahan berat badan kerbau diketahui dengan menimbang kerbau pada awal
dan akhir penelitian. Selisih antara berat badan ternak pada awal dan akhir penelitian
adalah perubahan berat badan kerbau selama penelitian. Perubahan berat badan harian
kerbau dihitung dengan membagi perubahan berat badan kerbau selama penelitian
dengan lamanya penelitian.
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat
perbedaan nyata antarperlakuan (P<0,05), analisis dilanjutkan dengan uji jarak
berganda dari Duncan (Steel dan Torrie, 1989).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa perbedaan berat badan kerbau pada
penelitian ini berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering pakan (Tabel 1). Hal ini
disebabkan karena semakin meningkatnya berat badan, ternak memerlukan energi
dan zat-zat makanan lainnya yang lebih tinggi pula, terutama untuk kebutuhan hidup
pokok. Beberapa hasil penelitian mendapatkan bahwa kebutuhan akan zat makanan
terutama energi dipengaruhi oleh berat badan. Mahardika (1996) mendapatkan bahwa
kebutuhan akan energi untuk hidup pokok dari kerbau adalah 0,37 MJ/W0,75,
sedangkan kebutuhan akan energi untuk hidup pokok dari kambing PE adalah 0,45
MJ/W0,75 (Sastradipradja et al.,1994)
Peningkatan pemberian waktu latihan mengakibatkan peningkatan konsumsi bahan
kering pakan (Tabel 1), karena ternak memerlukan energi lebih banyak untuk
memenuhi kebutuhan akan energi untuk melakukan aktivitas kerja atau latihan
(Mahardika, 1996). Tenaga yang dihasilkan untuk kerja berasal dari pakan, sehingga
untuk memenuhi kebutuhan akan energi untuk kerja adalah dengan jalan
meningkatkan konsumsi bahan keringnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Bakri et al. (1989) yang mendapatkan bahwa konsumsi pakan kerbau dengan berat
badan 300 – 350 kg akan meningkat dari 5,26 kg menjadi 6,26 kg DM/hari bila beban
kerjanya ditingkatkan dari tanpa beban menjadi bekerja dengan beban 50 kg. Menurut
NRC yang dikutip oleh Mariani (1994), jumlah bahan kering yang dikonsumsi
oleh sapi tergantung pada berat badan, tingkat produksi, kondisi lingkungan,
kondisi tubuh, tipe dan jenis bahan makanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering tidak
dipengaruhi oleh berat badan (Tabel 1). Pemberian pakan yang sama jenisnya akan
menghasilkan kecernaan yang sama. Hal ini secara nyata ditunjukkan oleh
meningkatnya konsumsi pakan yang diikuti oleh peningkatan jumlah feses yang
dihasilkan. Pemberian latihan selama 5 menit/hari selama dua minggu belum
menunjukkan adanya
Tabel 1. Pengaruh Berat Badan dan Lama Latihan Terhadap Konsumsi Pakan,
Kecernaan Bahan Kering, Perubahan Berat Badan, dan Kecernaan Protein
pada Kerbau Penelitian
Perlakuan Konsumsi Pakan
(kg/hari)
Kecernaan Bahan
Kering (%)
Perubahan Berat
badan (kg/hari)
Kecernaan Protein
(%)
B11) 7,34a3) 52,10a 0,18a 45,95a
B2 8,51b 52,10a 0,20a 45,70a
B3 9,62c 52,4a 0,25a 46,12a
Rataan 8,49 52,2 0,21 45,93
SEM4) 0,07 0,27 0,02 0,29
L02) 7,53a 51,42a 0,48a 45,91a
L1 8,24b 51,56a 0,38b 45,99a
L2 8,86c 52,92b 0,15c 45,90a
L3 9,32d 52,81b -0,17c 45,93a
Rataan 8,49 52,18 0,30 45,93
SEM 0,06 0,13 0,02 0,27
Interaksi P>0,05 P>0,05 P>0,05 P>0,05
1) B1 : Berat badan kerbau 309,44 kg
B2 : Berat badan kerbau 350,94 kg
B3 : Berat badan kerbau 393,94 kg
2) L0 : Kerbau yang tidak dilatih
L1 : Kerbau yang dilatih selama 5 menit/hari
L2 : Kerbau yang dilatih selama 10 menit/hari
L3 : Kerbau yang dilatih selama 15 menit/hari
3) Nilai dengan huruf sama pada kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata (P>0,05)
4) SEM : Standard Error of the Treatment Means
perbedaan kecernaan bahan kering pakan dibandingkan dengan kerbau yang tidak
dilatih, tetapi peningkatan lama latihan dapat meningkatkan kecernaan bahan kering
pakan (Tabel 1). Hal ini disebabkan karena pemberian latihan sampai 5 menit/hari
belum mampu meningkatkan aktivitas proses pencernaan dalam tubuh dan juga
karena diakibatkan tubuh masih mampu beradaptasi terhadap beban yang diberikan
dengan ketersediaan energi yang diterima dari pakan yang dikonsumsi. Hal ini sejalan
dengan penelitian Lindela dan Mupeta (1995) yang mendapatkan bahwa tidak
terdapat perbedaan kecernaan bahan kering pakan pada kerbau yang bekerja dengan
kerbau yang tidak bekerja. Peningkatan lama latihan sampai 15 menit/hari dapat
meningkatkan kecernaan bahan kering pakan (Tabel 1). Hal ini disebabkan karena
peningkatan lama waktu latihan meningkatkan aktivitas tubuh sampai batas tertentu,
sehingga dapat meningkatkan aktivitas kerja mikroorganisme sehingga pencernaan
makanan menjadi lebih baik.
Perubahan berat badan ternak pada perlakuan B1, B2 dan B3 cenderung
meningkat (Tabel 1), karena adanya konsumsi bahan kering yang meningkat dari
ketiga berat badan ternak tersebut. Namun, peningkatan lama waktu latihan
mengakibatkan penurunan berat badan, karena peningkatan konsumsi pakan pada
kerbau yang dilatih tidak semata-mata digunakan untuk pertumbuhan tetapi juga
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan akan energi untuk latihan. Bamualim et al.
(1987) mendapatkan bahwa angka pertumbuhan dari hewan yang tidak bekerja adalah
dua kali lebih tinggi dari pada hewan yang bekerja. Pada perlakuan lama waktu
latihan 15 menit/hari, terjadi perubahan berat badan kerbau yang negatif sebesar –
0,17 kg/hari. Hal ini menunjukkan bahwa kerbau yang diberi pakan rumput raja (King
grass) saja tanpa suplementasi pakan penguat kebutuhan energinya belum mencukupi
bila diberi beban lama waktu latihan sampai 15 menit/hari.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan massa tubuh atau lama
waktu latihan pada kerbau tidak mempengaruhi kecernaan protein (Tabel 1). Hal ini
disebabkan karena kecernaan protein suatu bahan pakan dipengaruhi oleh jenis pakan
serta jenis ternak. Pemberian pakan dengan kadar protein pakan yang sama akan
menghasilkan kecernaan protein dalam tubuh ternak yang sama pula. Di samping itu,
kebutuhan akan protein pada ternak tidak naik secara menyolok karena ternak harus
bekerja. Peningkatan konsumsi pakan termasuk komsumsi protein memang akan
terjadi dengan semakin meningkatnya aktivitas fisik ternak yang diakibatkan oleh
meningkatnya kebutuhan akan energi bagi ternak (Tillman at al., 1991).
Peningkatan berat badan kerbau berpengaruh terhadap konsumsi nitrogen (N)
(Tabel 2). Hal ini disebabkan karena peningkatan berat badan kerbau juga
meningkatkan kebutuhan akan protein untuk hidup pokok di samping karena
memang konsumsi pakan juga lebih tinggi (Mahardika, 1996). Konsumsi pakan yang
lebih tinggi salah satu cara bagi ternak untuk mendapatkan jumlah protein yag lebih
tinggi pula. Kebutuhan akan protein semakin meningkat pada periode kerja (latihan)
yang lama karena Randomized
Tabel 2 : Pengaruh Berat Badan dan Lama Latihan Terhadap Neraca Nitrogen (N)
pada Kerbau Penelitian
Perlakuan N Konsumsi
(g/hari)
N Feses (g/hari) N Urine (g/hari) N Retensi(g/hari)
B11) 97,70a3) 52,88a 25,46a 19,36a
B2 113,60b 61,65b 27,89b 24,06b
B3 127,30c 68,58c 29,15c 29,57c
Rataan 112,87 61,04 27,50 24,31
SEM4) 0,86 0,63 0,24 0,59
L02) 100,53a 54,54a 14,48a 31,52a
L1 109,33b 58,99b 27,28b 23,06b
L2 117,73c 63,64c 33,1c 20,95bc
L3 123,87d 66,97d 35,10d 21,80c
Rataan 112,87 61,04 27,50 24,31
SEM 0,72 0,57 0,21 0,52
Interaksi P>0,05 P>0,05 P>0,05 P>0,05
1) B1 : Berat badan kerbau 309,44 kg
B2 : Berat badan kerbau 350,94 kg
B3 : Berat badan kerbau 393,94 kg
2) L0 : Kerbau yang tidak dilatih
L1 : Kerbau yang dilatih selama 5 menit/hari
L2 : Kerbau yang dilatih selama 10 menit/hari
L3 : Kerbau yang dilatih selama 15 menit/hari
3) Nilai dengan huruf sama pada kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata (P>0,05)
4) SEM : Standard Error of the Treatment Means
protein juga digunakan sebagai sumber energi untuk kerja (latihan). Pada keadaan
seperti itu, protein dioksidasi sehingga terjadi penurunan retensi protein. Proses
oksidasi protein akan menghasilkan amonia yang kemudian diubah menjadi urea
yang akan dikeluarkan melalui urine sehingga mengakibatkan meningkatnya jumlah
N urine pada kerbau yang dilatih lebih lama setiap harinya.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan hal sebagai berikut ini: (1)
Peningkatan lama waktu latihan tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein, tetapi
terjadi peningkatan konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan, nitrogen feses,
dan nitrogen urine (2) Peningkatan berat badan dan retensi nitrogen kerbau akan
semakin rendah dengan meningkatnya lama waktu latihan, bahkan terjadi penurunan
berat badan pada kerbau yang diberi latihan selama 15 menit/hari selama dua minggu
(3) Kerbau yang diberi latihan selama 5 menit/hari dan 10 menit/hari masih
memberikan pertambahan berat badan. Dari hasil penelitian ini, dapat disarankan agar
dilakukan lebih lanjut mengenai kecukupan energi pada kerbau-kerbau yang dilatih
dengan lama latihan lebih dari 10 menit/hari.
DAFTAR PUSTAKA
Bakri, B., R.M. Murray, J.P. Hogan, E. Teleni and Kartiarso. 1989. Effect of load
level on feed utilization by working cattle and buffaloes. DAP. Bull. 8 : 23 –
26.
Bamualim, A., D. Ffoulkes and L.C. Fletcher. 1987. Preliminary observation on the
effect of work on intake, digestibility, growth and ovarian activity of swam
buffaloes. DAP. Bull. 3 : 6 – 10.
Barwell, I. and W. McAyre. 1982. The Harnessing of Draught Animal. Intermediate
Technology Publications. Printed by Steers Printers, Rugby.
Goe, M.R. 1983. Current status of research on animal traction. World Anim. Rev. 45
: 24 – 26.
Lindela, R.N. and B. Mupeta. 1995. Work did not affect intake sustainable small
scale ruminant production in Semi Arid and Sub Humid Tropic Areas (K.
Becker, P. Lawrence and B. Orskald Ed.) Proc. of an Int’l. Workshop Held
on September 24th 1994 In Stutgart, Germany.
Mahardika, I.G. 1996. Kinerja Kerbau Betina pada Berbagai Beban Kerja Serta
Implikasinya Terhadap Kebutuhan Energi dan Protein Pakan. Disertasi
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mariani, N.P. 1994. Pengaruh Penggunaan Ubi Jalar-Urea Kompleks dalam
Konsentrat Terhadap Pertumbuhan Sapi FH Jantan. Tesis Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sastradipradja, D., D.A. Apriastuti, N.G.F. Katipana and H. Permadi. 1994.
Utilization of palm kernel cake, ground kapok seed and steamed cassava-urea
mix as supplements of grass diet by lactating goats. In Energy Metabolism of
Farm Animals (J.F. Aquilera Ed.) Proc. of 13th Symp. Majocar Spain, 1994.
Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika. Terjemahan Ir.
Bambang Sumantri. Penerbit PT Gramedia, Jakarta.
Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.
Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University
Press. Universitas Gajahmada, Yogyakarta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar