Kamis, 06 Mei 2010

Pengaruh Latihan Terhadap Kecernaan Ternak Kerbau

PENGARUH LAMA LATIHAN TERHADAP KONSUMSI PAKAN,

KECERNAAN PAKAN DAN NERACA NITROGEN PADA KERBAU

ATLET (MAKEPUNG) YANG DIBERI PAKAN RUMPUT RAJA





I. K. SUMADI



Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak,Fakultas Peternakan,

Universitas Udayana, Denpasar





RINGKASAN

Penelitian untuk mempelajari lama latihan yang berbeda terhadap konsumsi

pakan, kecernaan pakan, serta neraca nitrogen pada kerbau atlet (makepung) yang

diberi rumput raja (King grass) telah dilaksanakan di Desa Candikusuma, Kecamatan

Melaya, Kabupaten Jembrana (Bali). Pada penelitian ini, digunakan rancangan acak

kelompok (RAK) pola Split plot (petak terbagi) 3 x 4. Tiga tingkat berat badan

sebagai petak utama (B1 = 309,44 ± 4,29 kg; B2 = 350,94 ± 6,21 kg; dan B3 =

393,94 ± 8,07 kg) dan empat tingkat lama waktu latihan sebagai anak petak (L0 :

tidak dilatih; L1 : dilatih selama 5 menit/hari; L2 : dilatih selama 10 menit/hari; dan

L3 : dilatih selama 15 menit/hari) selama dua minggu. Setiap perlakuan terdiri atas

empat ulangan dan peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan bahan

kering pakan, perubahan berat badan, kecernaan protein, dan neraca nitrogen (N).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan,

perubahan berat badan, dan neraca N secara nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh lama

latihan, sedangkan kecernaan protein tidak dipengaruhi oleh berat badan dan lama

latihan (P>0,05). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa

peningkatan lama latihan tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein, tetapi terjadi

peningkatan konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan, konsumsi N, dan

perubahan berat badan. Peningkatan berat badan dan retensi N semakin rendah

dengan meningkatnya lama latihan; bahkan terjadi penurunan berat badan pada

kerbau yang dilatih selama 15 menit /hari.

Kata kunci : berat badan, lama latihan, rumput raja, kecernaan, retensi nitrogen.



PENDAHULUAN

Usaha peternakan yang telah dilakukan oleh petani sejak zaman dahulu sudah

kelihatan manfaatnya dalam membantu kehidupan petani itu sendiri. Pemeliharaan

ternak sapi di samping sebagai penghasil daging dan tenaga kerja, juga

dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara ritual keagamaan dan hiburan. Bentuk

pemanfaatan ternak kerbau dan sapi sebagai hiburan, seperti sapi gerumbungan di

Singaraja (Bali) dan kerbau pacuan di Jembrana (Bali). Makepung adalah adu lari dua

pasang kerbau jantan terlatih yang menarik cikar dan dikemudikan oleh seorang sais.

Di Jembrana, Bali, setiap kali pacuan diikuti oleh dua pasang kerbau dari

masing-masing kelompok (Blok Barat dan Blok Timur), yang berpacu secara

beriringan sepasang di depan dan sepasang lagi berada di belakang. Masing-masing

pasangan mempunyai garis awal (“start”) dan garis akhir (“finish”) yang berbeda

sehingga panjang lintasan yang ditempuh oleh masing-masing pasangan akan sama.

Kerbau yang digunakan dalam pacuan adalah kerbau jantan baik yang belum dikebiri

atau pun yang sudah dikebiri.

Barwell dan McAyre (1982) menyatakan bahwa kerbau jantan mempunyai berat

badan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kerbau betina, sehingga

kemampuan tarik (kerja) juga akan lebih kuat. Kemampuan kerja kerbau lebih baik

jika dibandingkan dengan sapi, karena sifat khas kerbau lebih tenang dan mempunyai

kekuatan tarik yang lebih besar (Goe, 1983). Beberapa hal yang dapat mempengaruhi

kemampuan kerja kerbau adalah umur, suhu lingkungan, latihan, kelembaban udara,

serta macam dan kekerasan tanah (Matthews dan Pullen, 1977).

Kerbau dengan berat badan 300 – 350 kg yang dikerjakan tanpa beban dan

kemudian bekerja dengan beban 50 kg selama 14 hari, konsumsi pakannya meningkat

dari 5,26 kg bahan kering (DM) menjadi 6,26 kg DM per hari, tetapi tidak terjadi

kenaikan berat badan selama kerja (Bakri et al., 1989). Energi, protein, dan zat-zat

makanan lainnya yang diperoleh dari makanan digunakan untuk memenuhi

kebutuhan hidup pokok dan produksi. Menurut Mahardika (1996), lemak digunakan

sebagai sumber energi utama terutama pada periode kerja yang lama dan protein

akan segera digunakan bila beban kerja terus ditingkatkan. Meningkatnya lemak

sebagai sumber energi pada kerbau yang mendapat beban kerja akan menyebabkan

meningkatnya air metabolik yang dihasilkan, karena oksidasi lemak menghasilkan air

metabolik yang lebih tinggi ketimbang karbohidrat. Keadaan ini didukung oleh

meningkatnya jumlah urine yang dikeluarkan.

Protein akan mengalami oksidasi untuk menghasilkan energi sehingga terjadi

penurunan retensi protein pada kerbau yang bekerja. Proses oksidasi protein dimulai

dari deaminasi asam amino sehingga menghasilkan gugus alfa-keto. Gugus ini akan

menghasilkan energi melalui jalur siklus asam sitrat atau melalui jalur

glukoneogenesis. Amonia yang dihasilkan akan dibuang ke hati dan diubah menjadi

urea yang kemudian dikeluarkan melalui urine. Hal ini tercermin dengan adanya

peningkatan jumlah nitrogen yang dikeluarkan melalui urine pada kerbau yang

mendapat kenaikan beban kerja (Mahardika, 1996). Penentuan kebutuhan akan energi

dengan pendekatan percobaan pakan dan pengukuran komposisi tubuh memberi hasil

bahwa kebutuhan akan energi untuk kondisi istirahat pada kerbau adalah 0,42 W0,75

MJ/hari sedangkan kebutuhan akan energi untuk hidup pokok adalah 0,37 W0,75

MJ/hari (Mahardika, 1996). Selanjutnya, penentuan kebutuhan akan protein dengan

pendekatan percobaan pakan dan perubahan komposisi tubuh mendapatkan bahwa

kebutuhan akan protein untuk hidup pokok adalah 2,52 W0,75 g/hari. Sebaliknya,

kebutuhan akan protein untuk kerja dipengaruhi oleh beban dan lama kerja.

Kecernaan bahan kering rumput raja berkisar antara 50,05 – 51,87% pada

kerbau yang tidak bekerja, bekerja satu jam dan kerbau yang bekerja dua jam

(Mahardika et al., 1996). Lindela dan Mupeta (1995) mendapatkan bahwa tidak ada

perbedaan kecernaan bahan kering pada kerbau yang bekerja dibandingkan dengan

kerbau yang tidak bekerja.

Dari telaah pustaka di atas, maka perlu diteliti pengaruh lama latihan yang

berbeda terhadap konsumsi pakan, kecernaan pakan dan neraca nitrogen pada kerbau

atlet. Penelitian itu perlu dilakukan. Karena mengingat pula bahwa di Kabupaten

Jembrana (Bali) terdapat pacuan kerbau yang telah dikenal secara internasional.

Tujuannya adalah untuk mengetahui keadaan status nutrisi yang ada hubungannya

dengan intensitas latihan.



MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya,

Kabupaten Jembrana (Bali) selama tiga bulan. Analisis proksimat pakan, feses, dan

urine yang diuji kadar zat nutrisinya dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan

Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.

Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah kerbau jantan yang telah

dipilih secara visual, karena paling tidak penampilan kerbau yang digunakan dalam

penelitian bisa mirip dengan kerbau yang digunakan atau dilombakan pada acara

pacuan kerbau (makepung). Berat badan kerbau yang digunakan antara 300 – 390 kg.

Kerbau tersebut dibeli dari petani yang selanjutnya dipelihara sesuai dengan

keperluan penelitian. Masing-masing kerbau dipelihara di dalam kandang metabolik

yang dilengkapi dengan tempat makanan, tempat penampungan kotoran dan urine,

serta ember tempat air minum.

Pakan yang diberikan selama penelitian adalah rumput raja (King grass) umur

40 – 50 hari dengan kandungan protein kasar 10,2 % (DM basis) yang diberikan

ad-libitum. Air minum diambil dari sumur dan diberikan ad-libitum.

Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan

Acak Kelompok pola Split plot (petak terbagi) 3 x 4. Tiga tingkat berat badan kerbau

ditetapkan sebagai petak utama (B1 = 309 ± 4,29 kg; B2 = 350,94 ± 6,21 kg; dan B3

= 393,94 ± 8,07 kg) dan empat tingkat lama waktu latihan sebagai anak petak (L0,

L1, L2, dan L3 berturut-turut 0, 5, 10, dan 15 menit/hari) selama dua minggu dan

masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Latihan dilakukan setiap pagi

hari pada lintasan melingkar dengan keliling 114 m.

Kerbau dilatih setiap pagi hari pada pukul 07.000 Wita dan setelah latihan

dikembalikan ke dalam kandangnya. Makanan dan air minum yang diberikan selalu

tersedia (ad-libitum). Konsumsi pakan harian dihitung berdasarkan pakan yang

dikonsumsi dikurangi dengan pakan yang masih tersisa di tempat pakannya, sehingga

jumlah pakan yang dikonsumsi selama penelitian dapat dihitung.

Peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan,

perubahan berat badan, kecernaan protein, dan neraca nitrogen.

Kecernaan bahan kering pakan ditentukan dengan metode koleksi total (Tillman

et al., 1991). Feses yang ada di dalam kandang metabolik dikumpulkan dan

ditampung selama 24 jam. Feses ini ditimbang dan dicatat setiap hari sehingga

jumlah feses tiap ulangan selama penelitian dapat diketahui.

Dari setiap ulangan percobaan diambil sampel pakan dan feses secukupnya

kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Setelah kering udara, sampel tersebut

dioven pada suhu 105o C selama 3 – 4 jam. Kecernaan bahan kering pakan (KCBK)

dapat dihitung dengan rumus :



Jumlah konsumsi bahan kering pakan – Jumlah bahan kering feses

KCBK = -------------------------------------------------------------- x 100%

Jumlah konsumsi bahan kering pakan





Kecernaan protein dapat diketahui dengan melakukan analisis kandungan

protein pakan dan feses terlebih dahulu. Setelah itu, kecernaan protein dapat

ditentukan dengan menggunakan rumus :



Jumlah konsumsi protein – Jumlah protein feses

Kecernaan protein = ------------------------------------------------- x 100%

Jumlah konsumsi protein



Neraca nitrogen (N) ditentukan dengan cara menentukan jumlah nitrogen yang

dikonsumsi, yang keluar melalui feses, yang keluar melalui urine dan nitrogen yang

diretensi. Konsumsi N ditentukan dengan mengalikan konsumsi bahan kering dengan

kandungan N pakan. Kandungan N feses dan N urine ditentukan dengan cara

mengalikan jumlah feses dan jumlah urine dengan kandungan N dalam feses dan N

dalam urine. Kandungan N pakan, N feses, dan N urine didapat dari analisis sampel

dengan cara Kjeldahl.

Retensi Nitrogen = Konsumsi nitrogen – Nitrogen feses – Nitrogen urine

Perubahan berat badan kerbau diketahui dengan menimbang kerbau pada awal

dan akhir penelitian. Selisih antara berat badan ternak pada awal dan akhir penelitian

adalah perubahan berat badan kerbau selama penelitian. Perubahan berat badan harian

kerbau dihitung dengan membagi perubahan berat badan kerbau selama penelitian

dengan lamanya penelitian.

Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat

perbedaan nyata antarperlakuan (P<0,05), analisis dilanjutkan dengan uji jarak

berganda dari Duncan (Steel dan Torrie, 1989).



HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa perbedaan berat badan kerbau pada

penelitian ini berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering pakan (Tabel 1). Hal ini

disebabkan karena semakin meningkatnya berat badan, ternak memerlukan energi

dan zat-zat makanan lainnya yang lebih tinggi pula, terutama untuk kebutuhan hidup

pokok. Beberapa hasil penelitian mendapatkan bahwa kebutuhan akan zat makanan

terutama energi dipengaruhi oleh berat badan. Mahardika (1996) mendapatkan bahwa

kebutuhan akan energi untuk hidup pokok dari kerbau adalah 0,37 MJ/W0,75,

sedangkan kebutuhan akan energi untuk hidup pokok dari kambing PE adalah 0,45

MJ/W0,75 (Sastradipradja et al.,1994)

Peningkatan pemberian waktu latihan mengakibatkan peningkatan konsumsi bahan

kering pakan (Tabel 1), karena ternak memerlukan energi lebih banyak untuk

memenuhi kebutuhan akan energi untuk melakukan aktivitas kerja atau latihan

(Mahardika, 1996). Tenaga yang dihasilkan untuk kerja berasal dari pakan, sehingga

untuk memenuhi kebutuhan akan energi untuk kerja adalah dengan jalan

meningkatkan konsumsi bahan keringnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian

Bakri et al. (1989) yang mendapatkan bahwa konsumsi pakan kerbau dengan berat

badan 300 – 350 kg akan meningkat dari 5,26 kg menjadi 6,26 kg DM/hari bila beban

kerjanya ditingkatkan dari tanpa beban menjadi bekerja dengan beban 50 kg. Menurut

NRC yang dikutip oleh Mariani (1994), jumlah bahan kering yang dikonsumsi

oleh sapi tergantung pada berat badan, tingkat produksi, kondisi lingkungan,

kondisi tubuh, tipe dan jenis bahan makanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering tidak

dipengaruhi oleh berat badan (Tabel 1). Pemberian pakan yang sama jenisnya akan

menghasilkan kecernaan yang sama. Hal ini secara nyata ditunjukkan oleh

meningkatnya konsumsi pakan yang diikuti oleh peningkatan jumlah feses yang

dihasilkan. Pemberian latihan selama 5 menit/hari selama dua minggu belum

menunjukkan adanya

Tabel 1. Pengaruh Berat Badan dan Lama Latihan Terhadap Konsumsi Pakan,

Kecernaan Bahan Kering, Perubahan Berat Badan, dan Kecernaan Protein

pada Kerbau Penelitian

Perlakuan Konsumsi Pakan

(kg/hari)

Kecernaan Bahan

Kering (%)

Perubahan Berat

badan (kg/hari)

Kecernaan Protein

(%)

B11) 7,34a3) 52,10a 0,18a 45,95a

B2 8,51b 52,10a 0,20a 45,70a

B3 9,62c 52,4a 0,25a 46,12a

Rataan 8,49 52,2 0,21 45,93

SEM4) 0,07 0,27 0,02 0,29

L02) 7,53a 51,42a 0,48a 45,91a

L1 8,24b 51,56a 0,38b 45,99a

L2 8,86c 52,92b 0,15c 45,90a

L3 9,32d 52,81b -0,17c 45,93a

Rataan 8,49 52,18 0,30 45,93

SEM 0,06 0,13 0,02 0,27

Interaksi P>0,05 P>0,05 P>0,05 P>0,05

1) B1 : Berat badan kerbau 309,44 kg

B2 : Berat badan kerbau 350,94 kg

B3 : Berat badan kerbau 393,94 kg

2) L0 : Kerbau yang tidak dilatih

L1 : Kerbau yang dilatih selama 5 menit/hari

L2 : Kerbau yang dilatih selama 10 menit/hari

L3 : Kerbau yang dilatih selama 15 menit/hari

3) Nilai dengan huruf sama pada kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata (P>0,05)

4) SEM : Standard Error of the Treatment Means

perbedaan kecernaan bahan kering pakan dibandingkan dengan kerbau yang tidak

dilatih, tetapi peningkatan lama latihan dapat meningkatkan kecernaan bahan kering

pakan (Tabel 1). Hal ini disebabkan karena pemberian latihan sampai 5 menit/hari

belum mampu meningkatkan aktivitas proses pencernaan dalam tubuh dan juga

karena diakibatkan tubuh masih mampu beradaptasi terhadap beban yang diberikan

dengan ketersediaan energi yang diterima dari pakan yang dikonsumsi. Hal ini sejalan

dengan penelitian Lindela dan Mupeta (1995) yang mendapatkan bahwa tidak

terdapat perbedaan kecernaan bahan kering pakan pada kerbau yang bekerja dengan

kerbau yang tidak bekerja. Peningkatan lama latihan sampai 15 menit/hari dapat

meningkatkan kecernaan bahan kering pakan (Tabel 1). Hal ini disebabkan karena

peningkatan lama waktu latihan meningkatkan aktivitas tubuh sampai batas tertentu,

sehingga dapat meningkatkan aktivitas kerja mikroorganisme sehingga pencernaan

makanan menjadi lebih baik.

Perubahan berat badan ternak pada perlakuan B1, B2 dan B3 cenderung

meningkat (Tabel 1), karena adanya konsumsi bahan kering yang meningkat dari

ketiga berat badan ternak tersebut. Namun, peningkatan lama waktu latihan

mengakibatkan penurunan berat badan, karena peningkatan konsumsi pakan pada

kerbau yang dilatih tidak semata-mata digunakan untuk pertumbuhan tetapi juga

dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan akan energi untuk latihan. Bamualim et al.

(1987) mendapatkan bahwa angka pertumbuhan dari hewan yang tidak bekerja adalah

dua kali lebih tinggi dari pada hewan yang bekerja. Pada perlakuan lama waktu

latihan 15 menit/hari, terjadi perubahan berat badan kerbau yang negatif sebesar –

0,17 kg/hari. Hal ini menunjukkan bahwa kerbau yang diberi pakan rumput raja (King

grass) saja tanpa suplementasi pakan penguat kebutuhan energinya belum mencukupi

bila diberi beban lama waktu latihan sampai 15 menit/hari.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan massa tubuh atau lama

waktu latihan pada kerbau tidak mempengaruhi kecernaan protein (Tabel 1). Hal ini

disebabkan karena kecernaan protein suatu bahan pakan dipengaruhi oleh jenis pakan

serta jenis ternak. Pemberian pakan dengan kadar protein pakan yang sama akan

menghasilkan kecernaan protein dalam tubuh ternak yang sama pula. Di samping itu,

kebutuhan akan protein pada ternak tidak naik secara menyolok karena ternak harus

bekerja. Peningkatan konsumsi pakan termasuk komsumsi protein memang akan

terjadi dengan semakin meningkatnya aktivitas fisik ternak yang diakibatkan oleh

meningkatnya kebutuhan akan energi bagi ternak (Tillman at al., 1991).

Peningkatan berat badan kerbau berpengaruh terhadap konsumsi nitrogen (N)

(Tabel 2). Hal ini disebabkan karena peningkatan berat badan kerbau juga

meningkatkan kebutuhan akan protein untuk hidup pokok di samping karena

memang konsumsi pakan juga lebih tinggi (Mahardika, 1996). Konsumsi pakan yang

lebih tinggi salah satu cara bagi ternak untuk mendapatkan jumlah protein yag lebih

tinggi pula. Kebutuhan akan protein semakin meningkat pada periode kerja (latihan)

yang lama karena Randomized

Tabel 2 : Pengaruh Berat Badan dan Lama Latihan Terhadap Neraca Nitrogen (N)

pada Kerbau Penelitian

Perlakuan N Konsumsi

(g/hari)

N Feses (g/hari) N Urine (g/hari) N Retensi(g/hari)

B11) 97,70a3) 52,88a 25,46a 19,36a

B2 113,60b 61,65b 27,89b 24,06b

B3 127,30c 68,58c 29,15c 29,57c

Rataan 112,87 61,04 27,50 24,31

SEM4) 0,86 0,63 0,24 0,59

L02) 100,53a 54,54a 14,48a 31,52a

L1 109,33b 58,99b 27,28b 23,06b

L2 117,73c 63,64c 33,1c 20,95bc

L3 123,87d 66,97d 35,10d 21,80c

Rataan 112,87 61,04 27,50 24,31

SEM 0,72 0,57 0,21 0,52

Interaksi P>0,05 P>0,05 P>0,05 P>0,05

1) B1 : Berat badan kerbau 309,44 kg

B2 : Berat badan kerbau 350,94 kg

B3 : Berat badan kerbau 393,94 kg

2) L0 : Kerbau yang tidak dilatih

L1 : Kerbau yang dilatih selama 5 menit/hari

L2 : Kerbau yang dilatih selama 10 menit/hari

L3 : Kerbau yang dilatih selama 15 menit/hari

3) Nilai dengan huruf sama pada kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata (P>0,05)

4) SEM : Standard Error of the Treatment Means

protein juga digunakan sebagai sumber energi untuk kerja (latihan). Pada keadaan

seperti itu, protein dioksidasi sehingga terjadi penurunan retensi protein. Proses

oksidasi protein akan menghasilkan amonia yang kemudian diubah menjadi urea

yang akan dikeluarkan melalui urine sehingga mengakibatkan meningkatnya jumlah

N urine pada kerbau yang dilatih lebih lama setiap harinya.

SIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan hal sebagai berikut ini: (1)

Peningkatan lama waktu latihan tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein, tetapi

terjadi peningkatan konsumsi pakan, kecernaan bahan kering pakan, nitrogen feses,

dan nitrogen urine (2) Peningkatan berat badan dan retensi nitrogen kerbau akan

semakin rendah dengan meningkatnya lama waktu latihan, bahkan terjadi penurunan

berat badan pada kerbau yang diberi latihan selama 15 menit/hari selama dua minggu

(3) Kerbau yang diberi latihan selama 5 menit/hari dan 10 menit/hari masih

memberikan pertambahan berat badan. Dari hasil penelitian ini, dapat disarankan agar

dilakukan lebih lanjut mengenai kecukupan energi pada kerbau-kerbau yang dilatih

dengan lama latihan lebih dari 10 menit/hari.

DAFTAR PUSTAKA

Bakri, B., R.M. Murray, J.P. Hogan, E. Teleni and Kartiarso. 1989. Effect of load

level on feed utilization by working cattle and buffaloes. DAP. Bull. 8 : 23 –

26.

Bamualim, A., D. Ffoulkes and L.C. Fletcher. 1987. Preliminary observation on the

effect of work on intake, digestibility, growth and ovarian activity of swam

buffaloes. DAP. Bull. 3 : 6 – 10.

Barwell, I. and W. McAyre. 1982. The Harnessing of Draught Animal. Intermediate

Technology Publications. Printed by Steers Printers, Rugby.

Goe, M.R. 1983. Current status of research on animal traction. World Anim. Rev. 45

: 24 – 26.

Lindela, R.N. and B. Mupeta. 1995. Work did not affect intake sustainable small

scale ruminant production in Semi Arid and Sub Humid Tropic Areas (K.

Becker, P. Lawrence and B. Orskald Ed.) Proc. of an Int’l. Workshop Held

on September 24th 1994 In Stutgart, Germany.

Mahardika, I.G. 1996. Kinerja Kerbau Betina pada Berbagai Beban Kerja Serta

Implikasinya Terhadap Kebutuhan Energi dan Protein Pakan. Disertasi

Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mariani, N.P. 1994. Pengaruh Penggunaan Ubi Jalar-Urea Kompleks dalam

Konsentrat Terhadap Pertumbuhan Sapi FH Jantan. Tesis Program

Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sastradipradja, D., D.A. Apriastuti, N.G.F. Katipana and H. Permadi. 1994.

Utilization of palm kernel cake, ground kapok seed and steamed cassava-urea

mix as supplements of grass diet by lactating goats. In Energy Metabolism of

Farm Animals (J.F. Aquilera Ed.) Proc. of 13th Symp. Majocar Spain, 1994.

Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika. Terjemahan Ir.

Bambang Sumantri. Penerbit PT Gramedia, Jakarta.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.

Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University

Press. Universitas Gajahmada, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar